
Borobudur adalah nama sebuah candi buddha yang terletak di Borobudur,
Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100
km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan
40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini
didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an
Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri
atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga
pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief
dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Stupa utama terbesar teletak di
tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan
melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah
duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan)
Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Monumen ini merupakan
model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan
Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat
manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan
kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi
timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan
suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya
melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan
itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan
Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah
berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak
kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar
langkan.
Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada
abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa
serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan
bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang
saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak
saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan
pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982
atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs
bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
Borobudur
kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat
Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di
Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata,
Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak
dikunjungi wisatawan.
Nama Borobudur

Stupa Borobudur dengan jajaran perbukitan Menoreh. Selama berabad-abad bangunan suci ini sempat terlupakan.
Dalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi;
istilah candi juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada
semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di
Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran
pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun memang nama
asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur
pertama kali ditulis dalam buku “Sejarah Pulau Jawa” karya Sir Thomas
Raffles. Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi
tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama
persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai
adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah
Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.
Nama
Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles
dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu
yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang seringkali dinamai
berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa
istilah ‘Budur’ mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa
yang berarti “purba”– maka bermakna, “Boro purba”.Akan tetapi arkeolog
lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang
berarti gunung.
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi
ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari
kata Sambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara) di mana di
lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa
etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan
“para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan
lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”.
Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan
lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks
candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan
dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah
biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de
Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950
berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti
Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur
adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang
melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru
dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan
Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti
Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah
bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara
Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamūlān sendiri berasal dari
kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk
memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis
memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang
berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”,
adalah nama asli Borobudur.
Tiga candi serangkai
Selain
Borobudur, terdapat beberapa candi Buddha dan Hindu di kawasan ini. Pada
masa penemuan dan pemugaran di awal abad ke-20 ditemukan candi Buddha
lainnya yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon yang terbujur membentang
dalam satu garis lurus. Awalnya diduga hanya suatu kebetulan, akan
tetapi berdasarkan dongeng penduduk setempat, dulu terdapat jalan
berlapis batu yang dipagari pagar langkan di kedua sisinya yang
menghubungkan ketiga candi ini. Tidak ditemukan bukti fisik adanya jalan
raya beralas batu dan berpagar dan mungkin ini hanya dongeng belaka,
akan tetapi para pakar menduga memang ada kesatuan perlambang dari
ketiga candi ini. Ketiga candi ini (Borobudur-Pawon-Mendut) memiliki
kemiripan langgam arsitektur dan ragam hiasnya dan memang berasal dari
periode yang sama yang memperkuat dugaan adanya keterkaitan ritual antar
ketiga candi ini. Keterkaitan suci pasti ada, akan tetapi bagaimanakah
proses ritual keagamaan ziarah dilakukan, belum diketahui secara pasti.
Selain candi Mendut dan Pawon, di sekitar Borobudur juga ditemukan
beberapa peninggalan purbakala lainnya, diantaranya berbagai temuan
tembikar seperti periuk dan kendi yang menunjukkan bahwa di sekitar
Borobudur dulu terdapat beberapa wilayah hunian. Temuan-temuan purbakala
di sekitar Borobudur kini disimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur,
yang terletak di sebelah utara candi bersebelahan dengan Museum Samudra
Raksa. Tidak seberapa jauh di sebelah utara Candi Pawon ditemukan
reruntuhan bekas candi Hindu yang disebut Candi Banon. Pada candi ini
ditemukan beberapa arca dewa-dewa utama Hindu dalam keadaan cukup baik
yaitu Shiwa, Wishnu, Brahma, serta Ganesha. Akan tetapi batu asli Candi
Banon amat sedikit ditemukan sehingga tidak mungkin dilakukan
rekonstruksi. Pada saat penemuannya arca-arca Banon diangkut ke Batavia
(kini Jakarta) dan kini disimpan di Museum Nasional Indonesia.
Lukisan karya G.B. Hooijer (dibuat kurun 1916—1919) merekonstruksi suasana di Borobudur pada masa jayanya
Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun
Borobudur dan apa kegunaannya.[19] Waktu pembangunannya diperkirakan
berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki
tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada
prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun
sekitar tahun 800 masehi.[19] Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara
760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa
Tengah,[20] yang kala itu dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya.
Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 tahun dan
dirampungkan pada masa pemerintahan Samaratungga pada tahun 825.[21][22]
Terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai apakah raja yang berkuasa di
Jawa kala itu beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra diketahui
sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana yang taat, akan tetapi
melalui temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mereka mungkin
awalnya beragama Hindu Siwa.[21] Pada kurun waktu itulah dibangun
berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu. Berdasarkan Prasasti
Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan
pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung
Wukir, letaknya hanya 10 km (6.2 mil) sebelah timur dari Borobudur.[23]
Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan
dengan candi-candi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur
diperkirakan sudah rampung sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih
awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan sekitar tahun
850 M.
Pembangunan candi-candi Buddha — termasuk Borobudur — saat
itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan
izin kepada umat Buddha untuk membangun candi.[24] Bahkan untuk
menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan
kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan
Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara,
sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778
Masehi.[24] Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada
masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat
menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja
menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula
sebaliknya.[25] Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa
kerajaan pada masa itu — wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan
wangsa Sanjaya yang memuja Siwa — yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi
pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.[26] Ketidakjelasan
juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan, candi megah yang
dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban
wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa
Syailendra,[26] akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana
toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini
yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di
Prambanan.[27]
Tahapan pembangunan Borobudur
Para ahli arkeologi
menduga bahwa rancangan awal Borobudur adalah stupa tunggal yang sangat
besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang luar biasa
besar dan berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi sehingga arsitek
perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan
diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti
sekarang. Berikut adalah perkiraan tahapan pembangunan Borobudur:
1.
Tahap pertama: Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti
(diperkirakan kurun 750 dan 850 M). Borobudur dibangun di atas bukit
alami, bagian atas bukit diratakan dan pelataran datar diperluas.
Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit,
bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga
menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit
ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun
bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi
kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun
tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak.
2. Tahap kedua: Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu
undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang
sangat besar.
3. Tahap ketiga: Terjadi perubahan rancang bangun,
undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan
diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun
berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa
induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi
diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus
menutup relief Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur
semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai
batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu
berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar.
Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan
pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga
Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk
membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan
teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan
hanya satu stupa induk. Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor
maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli.
Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang
mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus
menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu
4. Tahap
keempat: Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan
pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang
pintu, serta pelebaran ujung kaki.
Penemuan kembali
Foto
pertama Borobudur oleh Isidore van Kinsbergen (1873) setelah monumen ini
dibersihkan dari tanaman yang tumbuh pada tubuh candi. Bendera Belanda
tampak pada stupa utama candi.
Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp. Stupa utama memiliki menara dengan chattra (payung) susun tiga.
Setelah Perang Inggris-Belanda dalam memperebutkan pulau Jawa, Jawa
dibawah pemerintahan Britania (Inggris) pada kurun 1811 hingga 1816.
Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan ia
memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa. Ia mengumpulkan
artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai
sejarah dan kebudayaan Jawa yang dikumpulkannya dari perjumpaannya
dengan rakyat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa. Pada kunjungan
inspeksinya di Semarang tahun 1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah
monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro.[28] Karena
berhalangan dan tugasnya sebagai Gubernur Jenderal, ia tidak dapat pergi
sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang
insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar ini.
Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200 bawahannya menebang pepohonan dan
semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan
tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, ia tidak dapat
menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada
Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur.
Meskipun penemuan ini hanya menyebutkan beberapa kalimat, Raffles
dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen ini, serta menarik
perhatian dunia atas keberadaan monumen yang pernah hilang ini.[9]
Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu
meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian
bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih
bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulis laporan
atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan
arca buddha besar di stupa utama.[29] Pada 1842, Hartmann menyelidiki
stupa utama meskipun apa yang ia temukan tetap menjadi misteri karena
bagian dalam stupa kosong.
Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C.
Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik, ia mempelajari
monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund juga
ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini,
yang dirampungkannya pada 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel
berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya
Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama. Pemerintah Hindia
Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yang mengkompilasi
monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873,
monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan,
dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun
kemudian.[29] Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli
engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.[30]
Penghargaan atas situs
ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi
sumber cenderamata dan pendapatan bagi pencuri, penjarah candi, dan
kolektor “pemburu artefak”. Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling
banyak dicuri. Karena mencuri seluruh arca buddha terlalu berat dan
besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkan oleh pencuri agar
kepalanya terpenggal. Karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan
arca Buddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi
incaran kolektor benda antik dan museum-museum di seluruh dunia. Pada
1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur
dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi
yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di
monumen.[30] Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang
arkeolog, untuk menggelar penyelidikan menyeluruh atas situs dan
memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannya menyatakan bahwa
kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkan
utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.
Bagian candi Borobudur
dicuri sebagai benda cinderamata, arca dan ukirannya diburu kolektor
benda antik. Tindakan penjarahan situs bersejarah ini bahkan salah
satunya direstui Pemerintah Kolonial. Pada tahun 1896, Raja Thailand,
Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia)
menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur.
Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak
penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke
Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan
relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan
gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi —
beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini,
yaitu arca singa dan dwarapala, kini dipamerkan di Museum Nasional di
Bangkok.[31]
Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:
Kamadhatu
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih
dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Bagian ini sebagian besar
tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat
konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang tertutup struktur tambahan
ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi.
Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga
orang masih dapat melihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu
andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume
13.000 meter kubik.[2]
Rupadhatu
Empat undak teras yang
membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief
oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi.
Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang
relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu
adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih
terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara
yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini
patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas
pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam
relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.[2] Pada
pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan
peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan
paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan
diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras
bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.
Arupadhatu
Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai
lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini
dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud).
Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas,
di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan
rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72
dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang
mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk
lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing
berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya
lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas
stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur
sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup
berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu
masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan
konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada
tetapi tak terlihat.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan
ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar
dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam
stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna
atau disebut juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan
sebagai patung ‘Adibuddha’, padahal melalui penelitian lebih lanjut
tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai
itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut
kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak
boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini
menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong
diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan
ketiadaan sempurna dimana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat,
keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.
Tangga Borobudur mendaki melalui serangkaian gapura berukir Kala-Makara
Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan
tempat penatahan untuk membangun monumen ini.[51] Batu ini dipotong
dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa
menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali,
melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego
yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan
tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk
“ekor merpati” yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi
setelah struktur bangunan dan dinding rampung.
Monumen ini
dilengkapi dengan sistem drainase yang cukup baik untuk wilayah dengan
curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100
pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan yang
unik berbentuk kepala raksasa kala atau makara.
Borobudur amat
berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas
permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Akan tetapi teknik
pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak
memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah
lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong
dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum
rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Di
lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan
kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Borobudur mungkin pada awalnya
berfungsi lebih sebagai sebuah stupa, daripada kuil atau candi.[51]
Stupa memang dimaksudkan sebagai bangunan suci untuk memuliakan Buddha.
Terkadang stupa dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan
kepada Buddha. Sementara kuil atau candi lebih berfungsi sebagai rumah
ibadah. Rancangannya yang rumit dari monumen ini menunjukkan bahwa
bangunan ini memang sebuah bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan
tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat ini diduga merupakan
perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk
arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Menurut legenda
setempat arsitek perancang Borobudur bernama Gunadharma, sedikit yang
diketahui tentang arsitek misterius ini.[52] Namanya lebih berdasarkan
dongeng dan legenda Jawa dan bukan berdasarkan prasasti bersejarah.
Legenda Gunadharma terkait dengan cerita rakyat mengenai perbukitan
Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal
ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma yang berbaring berubah menjadi
jajaran perbukitan Menoreh, tentu saja legenda ini hanya fiksi dan
dongeng belaka.
Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala,
yaitu panjang wajah manusia antara ujung garis rambut di dahi hingga
ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari
kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya.[53] Tentu saja
satuan ini bersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, akan
tetapi satuan ini tetap pada monumen ini. Penelitian pada 1977
mengungkapkan rasio perbandingan 4:6:9 yang ditemukan di monumen ini.
Arsitek menggunakan formula ini untuk menentukan dimensi yang tepat dari
suatu fraktal geometri perulangan swa-serupa dalam rancangan
Borobudur.[53][54] Rasio matematis ini juga ditemukan dalam rancang
bangun Candi Mendut dan Pawon di dekatnya. Arkeolog yakin bahwa rasio
4:6:9 dan satuan tala memiliki fungsi dan makna penanggalan, astronomi,
dan kosmologi. Hal yang sama juga berlaku di candi Angkor Wat di
Kamboja.[52]
Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar
(kaki), tubuh, dan puncak.[52] Dasar berukuran 123×123 m (403.5 × 403.5
ft) dengan tinggi 4 m (13 kaki).[51] Tubuh candi terdiri atas lima batur
teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama
mundur 7 m (23 kaki) dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya
mundur 2 m (6.6 kaki), menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan.
Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang
barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa
utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 m
(110 kaki) dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra
(payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 m (140 kaki) . Tangga
terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa
pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang
pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi
ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang
menonjol di kedua sisinya. Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam
arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur,
sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus
tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi
dengan dataran di sekitarnya.
Letak relief kisah-kisah naskah suci Buddha di dinding Borobudur
Pada dinding candi di setiap tingkatan — kecuali pada teras-teras
Arupadhatu — dipahatkan panel-panel bas-relief yang dibuat dengan sangat
teliti dan halus.[55] Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis
dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief
ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun
dalam kesenian dunia Buddha.[56] Relief Borobudur juga menerapkan
disiplin senirupa India, seperti berbagai sikap tubuh yang memiliki
makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia mulia
seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari atapun makhluk yang
mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa,
seringkali digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini
disebut “lekuk tiga” yaitu melekuk atau sedikit condong pada bagian
leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu
pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi
tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari
Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam
teratai bertangkai panjang.[57]
Relief Borobudur menampilkan banyak
gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau
pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan
vernakular tradisional Nusantara. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab
yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak
arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara abad
ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief Borobudur.
Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan,
busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat
transportasi, dicermati oleh para peneliti. Salah satunya adalah relief
terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur.[58] Kapal kayu bercadik
khas Nusantara ini menunjukkan kebudayaan bahari purbakala. Replika
bahtera yang dibuat berdasarkan relief Borobudur tersimpan di Museum
Samudra Raksa yang terletak di sebelah utara Borobudur.[59]
Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina
dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang
artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya,
antara lain relief-relief cerita jātaka. Pembacaan cerita-cerita relief
ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di
setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah
kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah
tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya
bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Sumber : wikipedia